TERASKATA.Com, ASAHAN-Masyarakat Desa Sei Kopas menuding program Corporate Social Responsibility (CSR) yang diklaim oleh pihak PTPN IV Regional II Kebun Sei Kopas terkesan “seperti siluman”. Pasalnya, bantuan yang disebut-sebut telah direalisasikan berupa 160 ton batu pitrun untuk perbaikan akses jalan desa dinilai tidak terlihat wujudnya di lapangan.
Sejumlah warga mengaku bingung setelah membaca pemberitaan di beberapa media online yang menyebutkan perusahaan telah menyalurkan bantuan material batu pitrun sebanyak 160 ton sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar kebun Sei Kopas. Namun, hingga saat ini, masyarakat mengaku belum melihat adanya penimbunan atau perbaikan jalan sebagaimana diberitakan.
“Kalau memang benar ada 160 ton batu pitrun, di mana letaknya? Jalan kami masih rusak seperti ini. Jangan sampai CSR hanya ada di berita, tapi tidak ada wujudnya, jangan mengada-ada sehingga membuat kebohongan dan membodohi publik la tapi orang Intelek, dan pemikir, seolah-olah berbuat real pembodohan ini ketua” ujar salah seorang tokoh pemuda Desa Sei Kopas di akun Facebook pribadinya.
Akun Facebook bernama Frengki Sitorus yang diketahui adalah tokoh masyarakat Desa Sei Kopas juga mengatakan Disinilah kelihatan, siapa sebenarnya pembohong narasi sebenarnya.
Sekelas Ptpniv SEI kopas bisa mengarang cerita. Terlalu indah perkataan anda bung, namun kosong isinya. Saya masyarakat desa SEI kopas, saya berani bersaksi bahwasanya mereka membuat berita bohong/hoax dengan mengatakan bantuan SEI kopas sebesar 160 ton.
Sekelas perusahaan besar ptpn4 SEI kopas bisa mengeluarkan berita bohong/hoax.
Warga menilai, jika bantuan tersebut benar telah direalisasikan, seharusnya ada transparansi lokasi penyaluran, dokumentasi resmi, serta pelibatan pemerintah desa agar tidak menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga mempertanyakan mekanisme penyaluran CSR yang dinilai kurang terbuka. Mereka berharap manajemen Kebun Sei Kopas dapat memberikan klarifikasi secara terbuka agar tidak berkembang opini negatif terhadap perusahaan.
“Kami tidak menuduh tanpa dasar. Kami hanya minta kejelasan. Jangan sampai bantuan CSR hanya sebatas laporan administrasi,” tambah warga lainnya.
Ketua MPPN ( Mahasiswa Pemerhati Perkebunan Negara) mengatakan ” Pihaknya akan melakukan aksi unjuk rasa kembali ke Kantor Head Regional ll di medan, serta melaporkan secara resmi ke Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, agar tudingan masyarakat ini bisa dibuka terang benderang” Ucapnya.
Lanjutnya, Banyak sekali kejanggalan-kejanggalan dikebun sei kopas ini, selain diduga management kebun mengerjakan sendiri proyek pemeliharaan, ternyata mereka diduga juga melakukan CSR Fiktif. Ini harus clear dan terbuka oleh publik, kalau memang benar fiktif maka Kejatisu harus ambil tindakan. Tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Kebun Sei Kopas belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan tersebut. Masyarakat berharap adanya pertemuan terbuka antara perusahaan, pemerintah desa, dan perwakilan warga guna meluruskan informasi serta memastikan program CSR benar-benar dirasakan manfaatnya.
Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi kunci agar hubungan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat sekitar tetap harmonis, serta program tanggung jawab sosial benar-benar memberikan dampak nyata bagi pembangunan desa. ( Tim )








Komentar